Rabu, 31 Oktober 2012

Cerita di Kota Tua


 
Kota Tua
Sesampainya di Kota Tua, kami langsung menuju ke suatu kerumunan. Terdengar olehku suara-suara lecutan cambuk di Lapangan Fatahillah. Ternyata ada atraksi Kuda Lumping. Lagi-lagi kulihat anak-anak di antara pemain atraksi Kuda Lumping. Seorang anak dibungkus menyerupai pocong, diikat dan dimasukkan ke dalam sebuah tenda kain berwarna hitam. Sambil menunggu kejutan dari dalam tenda, pemain lain melakukan atraksi menyembur-nyemburkan api lalu memakannya. Tak lama, tenda kain hitam tadi terbuka, terdapat si anak tadi yang dibungkus dan diikat telah terlepas bebas. Sesekali ada kru dari Kuda Lumping tersebut berjalan membawa sebuah baskom untuk meminta sumbangan dari para penonton. 
Salah satu rangkaian atraksi kuda lumping
Atraksi dilanjutkan dengan percakapan konyol antara pawang Kuda Lumping dan seorang anak lain yang lebih kecil (berumur sekitar 4-5tahun). Dari percakapan mereka aku ketahui anak itu bernama Bogel. Dalam percakapan itu, sesekali Bogel terlihat dicambuk. Anehnya, setiap Si Pawang mencambuk Si Bogel, penonton malah tertawa (terkecuali aku). 
 
Atraksi si Pawang dan si Bogel
Para pemain saling menyemburkan api dari mulut mereka lalu memakannya. Tiba-tiba ada dua orang lelaki pingsan, yang satu masih anak-anak dan yang satu lagi sudah dewasa. Si pawang langsung mendekati dan berkomat-kamit melafalkan sesuatu. Kedua lelaki tadi terbangun dan kesurupan, seklaigus menjadi inti atraksinya. Mereka diberi kuda-kudaan. Ya, ini adalah atraksi Kuda Lumpingnya. Mereka menari-menari di lapangan dan memakan pecahan lampu. Dengan didampingi salah satu kru wanita yang tidak kesurupan, mereka meminta uang kepada penonton.
Pandanganku teralihkan kepada seorang anak berusia sekitar 3 tahun. Dia mendekati sekelompok remaja yang sedang asyik melihat atraksi Kuda Lumping. Dia memelototi para remaja itu, sebagian remaja merasa takut (mungkin mereka mengira, anak ini salah satu yang kesurupan juga).  Dia terus mendekati dan memelototi remaja-remaja itu. Ketika salah satu remaja tersebut memberi uang seribu, si anak tadi menerimanya dan langsung pergi. Tak lama, aku lihat anak itu, sedang menaiki odong-odong. Oh ternyata tadi melotot minta uang itu buat naik odong-odong.
 
Sepeda Ontel di Kota Tua
Di antara Gedung Pos Indonesia dan Gedung Gouverneur Kantoor ada sebuah lapangan yang cukup luas, dan dari mulut seorang penjaga sepeda ontel di lapangan itu, saya ketahui bahwa lapangan itu bernama Lapangan Fatahillah, mungkin karena di dekat sana juga ada Museum Fatahillah. Lapangan ini adalah daerah yang paling ramai, mulai dari para pengunjung, pedagang, pengamen dan pengemis, orang-orang yang menjaga sepeda ontel di pinggir lapangan, dan juga para pemain atraksi Kuda Lumping yang paling menarik minat pengunjung untuk menontonnya, memenuhi lapangan tersebut. Di lapangan itu juga banyak muda-mudi, ada juga bapak-ibu, yang asyik mengendarai Sepeda Ontel. Sepeda itu disewakan oleh beberapa orang di pinggir lapangan, untuk berkeliling Kota Tua.
 
Para pemuda bermain skateboard di Kota Tua
Kota Tua adalah kotanya anak muda. Menurut saya, itu kalimat yang cocok untuk kawasan wisata malam tersebut. Saya ingat cerita paman saya yang mengatakan bahwa sejak dulu Kota Tua memang menjadi tempat berkumpulnya anak-anak muda.
 
Pengunjung Kota Tua semakin ramai di malam hari
Tentunya, suasana dulu dan sekarang pasti berbeda. Meskipun saya orang yang baru pertama kali datang ke sana, saya bisa membayangkan hal itu. Apabila dahulu orang-orang datang dan meramaikan Kota Tua dengan berkumpul dan bercanda tawa, hal yang serupa juga dilakukan oleh orang-orang jaman sekarang. Akan tetapi dengan suasana yang berbeda, yaitu Kota Tua sebagai kawasan wisata malam yang resmi serta diselingi dengan berbagai atribut-atribut modern. Karena Kota Tua adalah kawasan wisata malam, adalah suatu hal yang wajar ketika saya terpana melihat kenyataan bahwa semakin hari larut, suasana Kota Tua semakin ramai oleh anak-anak muda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar